Wednesday, June 26, 2013

My MIYA 8

Miya berhasil menyusul Isabella ketika temannya itu mencapai pintu depan mansion. Butuh tenaga ekstra untuk mengejarnya yang berjalan sangat cepat ditambah lagi jarak antara pintu belakang dan pintu depan yang lumyan jauh. ‘’ Wait! I beg you please do not go! I want to talk to you!’’teriaknya. Miya berhasil mencapai pintu dan berusaha menghalangi pintu keluar dengan tubuhnya.
‘’Cepat minggir!’’kata Isabella dingin.
‘’Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum aku menjelaskan semuanya kepadamu’’.
‘’Tidak ada yang perlu kau jelaskan. Aku sudah melihat semuanya. Aku melihat kau dan Fabian berciuman di taman. Tidak kusangka kau juga menyukai pamanmu sendiri dan kau sudah benar-benar gila jatuh cinta kepada pamanmu. Dia itu pamanmu. Kau tahu’’.
‘’Iya aku tahu. Tapi kamu telah salah paham. Aku sama sekali tidak mencintainya. Tadi paman Fabian tiba-tiba menciumku dan aku tidak punya perasaan apa-apa kepadanya’’.
Isabella memandang curiga.’’Tapi kamu menyukai ciumannya tadi kan?’’. Wajah Miya memerah yang dikatakan Isabella memang benar. Ia tidak menyangkalnya.
Isabella menghela napas berat.‘’Kalau kau diam kamu memang menyukainya.Apa Fabian sering menciummu?’’
‘’Iya’’
‘’Oh ini benar-benar sudah gila. Aku tidak percaya ini. Sekarang biarkan aku pergi dan aku tidak mau berhubungan dengan kalian lagi. Kalian berdua sungguh keterlaluan dan kalian sudah benar-benar gila. Pantas saja kau mengirimi pesan supaya aku meninggalkan Fabian karena kamu ingin mengambilnya dariku. Iya kan? Aku pikir selama ini kamu adalah temanku , tapi ternyata tidak dan kau juga tidak tulus membantuku untuk mendapatkan Fabian’’
‘’Bukan begitu. Kamu salah, jadi tolong dengarkan penjelasanku dulu. Kita bicara di tempat lain saja’’.
‘’ I don’t want to, so let me go! ’’. Kemarahan terlihat jelas dari sorot mata Isabella, tapi Miya bersikeras menghalangi pintu keluar. Isabella mencoba menyingkirkan Miya dari pintu dengan paksa dan gadis itu jatuh tersungkur ke lantai.
‘’Miyaaa….’’teriak Fabian. ‘’ Are you alright?’’tanyanya cemas.
‘’Aku baik-baik saja’’.
 Sebelum pergi, Isabella menatap keduanya dengan pandangan marah dan jijik. Fabian mencoba membantu Miya berdiri. ‘’Kejarlah Bella sekarang! Dan jelaskan semuanya kepadanya. Kalau ini hanya salah paham saja’’.
‘’Tidak. Aku tidak akan menjelaskan apa pun kepadanya’’ujar Fabian dingin.
‘’Apaaa? Tapi….’’
‘’Sudah saatnya Bella mengetahui kalau aku tidak pernah mencintainya’’.
‘’Apa maksud paman?’’tanyanya dengan tatapan bingung.
Fabian langsung menarik Miya dengan cepat dan membawanya ke kamar gadis itu, lalu di tutupnya pintu kamar. Fabian melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan gadis itu. ‘’Kenapa membawaku ke sini? Seharusnya paman mengejar Bella dan menjelaskan kesalah pahaman ini’’.
‘’Dari awal memang tidak ada kesalah pahaman’’.
Miya memandang pamannya, tapi raut wajahnya tidak terbaca. Entah apa yang tengah dipikirkan Fabian saat ini, Miya tidak tahu, tapi sekarang ia benar-benar tidak mengerti situasi yang terjadi saat ini. Seharusnya pamannya mengejar Isabella dan memintanya untuk kembali, tapi yang dia lakukan membiarkannya pergi.
‘’Ada yang ingin aku katakan kepadamu. Aku sudah tidak tahan lagi untuk menyimpannya lebih lama lagi karena ini akan membuatku menjadi gila. Aku mencintaimu Miya Anabelarisa’’kata Fabian dengan suara lembut dan membujuk. Gadis itu tertegun dan terkejut.’’Aku sungguh mencintaimu’’ulangnya. Tatapan pria itu mengunci matanya, lalu tangannya yang besar dan kuat menyentuh dan membelai pipi Miya yang terasa hangat dan lembut. Gadis itu terkejut dan tersentak, nyaris tidak bernapas ketika merasakan hangatnya tangan Fabian menyentuh wajahnya dan ia tidak bisa mengalihkan tatapan mata pria itu darinya seolah ia merasa tersihir. Jari-jari pria itu tidak pernah meninggalkan kulitnya terus bergerak menelusuri setiap lekukan wajahnya, lekukan bibirnya dan telapak tangannya terasa sangat hangat ketika menyentuh lehernya. Miya merasakan jantungnya berdebar semakin liar ketika ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh bibirnya. Bibir Fabian dengan lembut menyapu bibirnya. Setiap sentuhan yang di lakukan oleh Fabian menimbulkan suatu desiran yang sangat menyenangkan yang datang tanpa di duga di dalam tubuh gadis itu, tapi Miya buru-buru menepis perasaan menyenangkan itu, tapi ia juga tidak kuasa untuk menolaknya. Hati dan tubuhnya tidak sejalan.
Fabian mengangkat kepalanya dan tatapan matanya begitu teduh dan menenangkan, lalu menarik Miya ke dalam pelukannya menyerap kehangatan tubuh gadis itu. ‘’Sejak aku bertemu denganmu, kau sudah mengusik pikiranku dan sudah menyita semua perhatianku. Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan selalu menunggu jawabanmu’’ ujarnya dengan suara serak dan parau.’’Kali ini aku serius. Aku benar-benar mencintaimu sebagai seorang pria terhadap wanita bukan cinta antara paman dan keponakan’’tegas Fabian . Miya menatap pamannya mencari kebenaran di matanya atas perkataannya tadi, tapi Miya tidak bisa menemukan apa pun. Ia langsung melepaskan diri dan melangkah mundur. ‘’Tidak. Tidak mungkin paman mencintaiku. Ini tidak benar. Pasti paman salah’’. Miya takut jika ia membiarkan perasaannya terlibat lebih jauh lagi suatu hari nanti ia akan tersakiti kembali.
‘’Kamu pernah menanyakan kepadaku siapa wanita yang kusukai. Wanita itu adalah kamu Miya’’. Miya mengeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang. Tidak mau mempercayai apa yang dikatakan oleh pamannya.‘’Jadi kamu masih tidak percaya kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu?’’. Miya kemudian mengangguk lagi.
‘’Paman hanya ingin mempermainkanku saja karena aku tahu paman memiliki banyak kekasih dan aku tidak akan pernah menjadi salah satu dari kekasih paman itu‘‘.
Fabian tersenyum sedih.‘’Jadi itu anggapanmu. Kau salah. Aku tidak pernah mau menjadikanmu sebagai salah satu kekasihku karena hanya kamu yang aku inginkan. Tidak seorang pun yang pernah hadir di hatiku selama empat tahun ini kecuali kau. Aku mencintaimu dengan tulus‘‘.
‘’Entalah aku tidak tahu. Siapa yang harus aku percaya. Sekarang aku ingin sendirian di kamarku. Sekarang pergilah!‘‘
Miya berjalan ke arah pintu dan menyuruh pamannya pergi.’’Tolong keluar dari kamarku! Sekarang aku sangat lelah dan tidak ingin berdebat lagi dengan paman.’’.
‘’Baiklah. Mungkin sekarang kau perlu untuk sendirian’’.
Sebelum pergi Fabian menatap Miya dalam-dalam. Sorot matanya memancarkan kesedihan . Perasaan kecewa terlihat jelas di wajahnya yang tampan. Fabian merasakan kepedihan hati yang teramat sangat. Miya tidak percaya dengan cinta yang di milikinya untuk gadis itu. Mata birunya terlihat sayu dan wajahnya terlihat muram. Fabian pergi dari kamar gadis itu setelah ia memandang Miya sekali lagi dengan perasaan sedihnya.

Sabrina mengelus pelan punggung Fabian ketika pria itu sudah selberkeluh kesah dan mencurhatkan isi hatinya kepada Sabrina. ‘’Beri Miya waktu! Ini sulit baginya. Kau kan tahu Miya pernah dikhianati oleh mantan kekasihnya dan ia takut kalau kau juga akan mengkhianatinya dan selain itu kamu adalah pamannya dan juga pria yang di sukai oleh temannya. Jadi beri dia waktu untuk memikirkannya’’. Sabrina tersenyum lembut dan menenangkan membuat Fabian merasa nyaman berada di samping kakak sepupunya ini.
‘’Tentu saja aku memberikan waktu kepadanya untuk memikirkan ini semua dan aku berharap Miya akan mengambil keputusan yang tepat yaitu pergi ke dalam pelukanku karena itu memang seharusnya ia berada yaitu dalam pelukanku’’.
‘’Tentu saja. Yang perlu kamu lakukan sekarang bersabar dan menunggu’’. Fabian mengangguk.
♫♫♫♫
Miya berkali-kali berusaha menghubungi Isabella, tapi ponselnya selalu tidak ia jawab dan itu membuat menjadi bertambah kesal. Ia duduk di sofa dan ia mendesah frustasi. ‘’Seharusnya tidak seperti ini. Ini semua gara-gara dia. Huuuhh…benar-benar menyebalkan. Aku tidak percaya apa yang dikatakannya’’. Miya membuka jendela kamarnya, seketika angin malam yang sejuk masuk menyelinap ke dalam kamarnya. Ia memandang  gelapnya langit malam tidak ada bintang satu pun di sana hanya ada seberkas cahaya bulan yang menembus awan. Miya menyentuh bibirnya masih merasakan kehangatan bibir pamannya di bibirnya. Berulang-ulang ia kembali mengingat setiap sentuhan dan ciuman yang diberikan pamannya tadi. Ia merasa aneh, sesaat ia begitu menyukai ciuman itu dan melupakan segalanya. Miya mengeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang.‘‘Aku tidak boleh jatuh cinta kepadanya. Pokoknya tidak boleh‘‘umpatnya kesal.Miya masuk kedalam kamarnya dan menutup jendela dengan perasaan jengkel.
Keesokan paginya Miya duduk di depan cermin memperhatikan wajahnya yang masih terlihat kusut .Semalam ia tidak bisa tidur memikirkan pernyataan cinta Fabian yang membuatnya terkejut sekaligus tidak percaya . Setelah berpakaian rapi Miya keluar kamarnya menuju dapur. Sekilas ia melihat pamannya berada di ruang musik sambil memandangi lukisan almarhum istrinya dengan sedih sekaligus benci.
Miya tiba-tiba merasa tergelitik untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan mereka dulu. Setelah kembali dari dapur Miya mendapati Mary Jane yang sedang membereskan kamarnya. Pelayan itu tersenyum ketika Miya datang.
‘’Bagaimana keadaan nona hari ini?’’
‘’Baik’’. Miya terdiam sebentar,lalu berkata lagi,’’
‘’Apa kamu tahu apa yang terjadi antara paman Fabian dan istrinya dulu?’’
Wajah Mary Jane seketika menegang dan terlihat gugup. ‘’Tentu saja tahu. Kenapa Anda menanyakannya?’’
‘’Aku hanya ingin tahu saja karena selama ini paman tidak pernah bercerita kepadaku’’.
‘’Sebaiknya Anda tanyakan saja sendiri kepadanya’’.
‘’Tidak mau karena aku yakin paman tidak mau mengatakannya kepadaku’’.
Mary Jane mengangguk mengerti, lalu ia menghela napas panjang. Pelayan itu merasa kasihan kepada Miya .Mary Jane diam sesaat berusaha mencari kata yang tepat untuk memulai bercerita.
‘’Sebenarnya saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka yang saya tahu kalau nyonya Clarissa adalah wanita yang sangat cantik dan disukai oleh banyak pria. Diantara pria yang memujanya dia lebih memilih tuan Fabian untuk dijadikan suami, tapi saat itu nyonya masih mempunyai kekasih, tapi kekasihnya langsung diputuskan ketika  nyonya Clarissa akan menikah dan saya dijadikan pelayan pribadinya setelah menikah dengan tuan Fabian .Nyonya sangat bahagia ketika menikahi dengannya, tapi kebahagiaan mereka tidak lama. Setelah satu bulan pernikahan hubungan mereka mulai renggang dan saya lebih sering melihat tuan Fabian mengurung diri di ruang kerjanya sambil mabuk-mabukan dan nyonya Clarissa sering pulang malam’’.  
Mary Jane melanjutkan.’’Nyonya sudah jarang memperhatikan tuan Fabian lagi. Nyonya lebih banyak menghabiskan waktu dengan berpesta, mungkin itu sebabnya hubungan mereka mulai memburuk. Saat itu saya merasa kasihan dengan tuan Fabian. Hari-harinya dilewatkan dengan bersedih. Sejak saat itu saya sering mendengar mereka bertengkar. Setiap hari selalu bertengkar. Pada suatu hari tuan Fabian mengajukan cerai, tapi nyonya menolaknya. Mereka kembali bertengkar dan suara mereka begitu keras sehingga saya bisa mendengarnya. Nyonya Clarissa bilang , ia telah melihat tuan Fabian sedang berselingkuh dengan wanita lain dan tidak akan membiarkan tuan Fabian hidup dengan wanita simpanannya,  lalu tuan Fabian marah besar.Akhirnya peristiwa tragis itu terjadi.
Disaat semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing , nyonya Clarissa meninggal di ruang keluarga lantai dua. Kejadiannya begitu cepat dan saya melihat tuan Fabian berada disana sedang terduduk di lantai menatap tubuh nyonya Clarissa yang sudah tidak bernyawa. Saat itu saya  tidak percaya kalau tuan Fabian tega mengkhianati nyonya Clarissa . Saya jadi merasa kesal dan marah dengan tuan Fabian saat itu. Sepetinya tuan Fabian sangat menyesali perbuatannya itu sekarang. Aku yakin tuan Fabian tidak bermakasud untuk membunuhnya’’.
Miya kembali terdiam setelah mendengar cerita dari Mary Jane . Rasa sedih dan kecewa bercampur aduk di hatinya.’’Apa benar yang dikatakan Mary Jane? Apa  Mary Jane telah mengatakan semuanya atau masih ada yang disembunyikan? Apa ia harus mempercayai ceritanya’’batinnya. Miya menghela napas panjang dan tubuhnya disandarkan di sandaran sofa sambil mencerna semua yang dikatakan oleh pelayannya. ‘’Nona Miya Anda tidak apa-apa?’’. Perkataan Mary Jane menyadarkannya dari lamunannya.’’Iya. Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menceritakannya kepadaku’’.
‘’Sama-sama nona Miya. Kamar Anda sudah di bereskan . Anda dapat beristirahat sekarang. Permisi!’’. Setelah Mary Jane pergi, Miya pun segera mengganti pakaiannya hendak keluar. Ia akan menemui Isabella dan menyelesaikan masalah dengannya. Miya tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut. Ia harus segera meluruskan kesalahpahaman ini.
♫♫♫♫
Fabian mencondongkan tubuhnya di depan cermin memeriksa wajahnya yang sudah dicukur bersih, lalu ia memakai jasnya yang telah disiapkan oleh pelayannya yang tersampir di tempat tidur. Wajahnya nampak muram setiap kali ia mengingat Miya. Sempat terlintas dipikirannya akan mencari wanita lain untuk menenangkan keresahan hatinya, tapi Fabian sekarang tidak dapat membayangkan jika ia harus kembali menyentuh dan mencium wanita lain selain Miya. Tubuhnya bergidik merinding ketika memikirkan hal itu. Sebelum Miya hadir dalam hidupnya, ia bebas melakukan hubungan dengan wanita yang diinginkannya, tapi sekarang ia tidak bisa melakukannya lagi. Fabian tersenyum dalam hati kalau ia sudah benar-benar mencintai gadis itu. Ia tahu sekarang hidupnya tergantung pada Miya .Aku tidak akan menyerah bisik hatinya. Fabian keluar kamar tanpa menyentuh sarapan paginya.
Secara diam –diam Miya melihat kepergian pamannya  dari kaca jendela , lalu ia bersiap pergi. Setibanya di kampus, ia bertemu dengan Sebastian yang sedang menunggunya karena sebelumnya ia telah meneleponnya terlebih dahulu. Secara singkat Miya kembali menjelaskan yang terjadi kemarin. ‘’Pantas saja tadi Isabella terlihat marah. Jadi apa yang di katakan pamanmu tentang ini?’’
‘’Tidak ada. Paman Fabian tidak mengatakan apa pun. Tidak berusaha untuk menjelaskan semuanya’’. Miya tertunduk lesu.
‘’Baiklah. Aku akan membawamu menemui Bella’’.
Sebastian kemudian membawa Miya ke taman belakang. Di sana Isabella sedang bicara dengan beberapa temannya. Ia terlihat senang dan tertawa bersama dengan teman-temannya. Tawa mereka hilang ketika Sebastian datang.  Miya menunggu di sisi lain taman , duduk di sebuah bangku taman. Isabella bersedia mengikuti Sebastian dan mereka sedang menuju ke arahnya.
Isabella hendak akan melarikan diri ketika ia melihat Miya yang sedang menunggunya, tapi Sebastian langsung menahannya dengan mencengkeram lengannya kuat-kuat.‘‘Sebastian, lepaskan!‘‘
‘‘Tidak. Sebelum kau mau mendengarkan apa yang ingin dibicarakan Miya‘‘.
‘‘Aku tidak mau‘‘.
‘‘Ya kau harus‘‘kata Sebastian menegaskan.
Dengan enggan Isabella akhirnya duduk dan matanya masih tidak mau memandang Miya.‘‘ Cepat apa yang ingin kau katakan padaku‘‘ujarnya dingin.
‘‘Bella maafkan aku. Ini hanya salah paham saja. Aku tidak mencintai paman Fabian. Dia hanya menyukaimu. Sungguh‘‘.
‘‘Kamu bohong‘‘ . Isabella langsung memandangnya marah.‘‘Fabian tidak pernah mencintaiku. Dia sudah mengatakannya berulang kali kepadaku, tapi aku bodoh berharap suatu hari nanti ia akhirnya akan mencintaiku ‘‘.
‘‘Itu tidak benar. Aku tidak percaya‘‘.
‘‘ Fabian sendiri yang mengatakannya kepadaku‘‘.
‘‘ Eh....‘‘ Miya nampak terkejut.‘‘Kapan?‘‘
‘‘Kemarin malam dia datang menemuiku di rumahku dan dia menjelaskan semuanya kepadaku. Fabian bilang dia mencintaimu sudah sejak awal dan dia tidak pernah mencintaiku‘‘. Sekarang raut wajah Isabella yang cantik berubah muram dan sedih .
Isabella begitu terkejut dengan kedatangan Fabian yang secara tiba-tiba ke rumahnya kemarin malam. Awalnya ia tidak mau bicara, tapi Fabian memaksanya dan akhirnya Isabella pun menuruti kemauannya karena ia tidak ingin berdebat lebih lama lagi karena orang tuanya sedang berada di rumah .
‘‘Jangan salahkan Miya atas masalah di antara kita berdua‘‘katanya tiba-tiba .‘‘Miya tidak tahu apa-apa tentang perasaanku kepadanya . Jadi jangan salahkan dia. Miya sangat sedih ketika kau marah kepadanya. Ia menyuruhku untuk menjelaskan semuanya kepadamu, tapi aku tidak mau karena menurutku itulah yang seharusnya supaya kamu tahu kalau aku tidak pernah mencintaimu. Tapi aku tidak tahan melihat perasaan sedih dan terluka di wajahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk datang kesini menemuimu‘‘.
‘‘Aku benar-benar tidak percaya ini. Kamu mencintai keponakamu sendiri. Ini sungguh gila‘‘.
‘‘Iya aku memang gila karena aku mencintainya, tapi sayangnya Miya tidak mencintaiku . Dia hanya menganggapku sebagai pamannya. Ini pertama kalinya aku di tolak oleh seorang wanita‘‘. Fabian tersenyum pahit.‘‘Tapi aku akan berusaha untuk merebut hatinya perlahan-lahan dan membuatnya mencintaiku‘‘.
‘‘Tapi kenapa kau sangat baik kepadaku dan membiarkanku terus berada disampingmu sehingga aku berpikir kamu benar-benar menyukaiku‘‘. Air mata mulai membasahi wajah Isabella.
‘‘Karena kamu keras kepala. Aku sudah memberitahumu kalau aku sudah mempunyai orang yang kusuka tapi kamu masih ingin terus berada di sampingku. Mau tidak mau aku harus memperlakukanmu dengan baik.Aku tidak mungkin bersikap kasar kepadamu. Bella , kamu adalah wanita baik. Aku yakin ada pria yang mencintaimu di luar sini‘‘. Isabella menghapus air matanya.
‘‘Miya sungguh beruntung bisa dicintai olehmu dan ia juga sungguh bodoh telah menolakmu di mana hampir semua wanita menginginkanmu‘‘.
Fabian tersenyum. ‘‘Miya memang bodoh telah menolakku, tapi aku jamin Miya akan menyesal telah menolakku. Jadi sekarang jangan marah lagi kepadanya. Aku paling tidak tahan melihatnya sedih dan menangis, kalau dia sudah menangis aku tidak tahu apa yang harus kulakukan .Sekarang jangan menganggapku sebagai calon suamimu lagi , tapi sekarang  aku adalah temanmu. Bagaimana?‘‘
Isabella mengangguk pelan meskipun di hatinya masih tidak rela untuk melepaskan Fabian. Kesempatan sekecil apa pun ia ingin mendapatkan Fabian untuk dirinya sendiri, tapi sepertinya itu tidak akan mudah karena Fabian sudah terlalu mencintai Miya. Sungguh bodohnya ia tidak menyadari hal ini. Setiap kali Fabian membicarakan Miya matanya selalu tersenyum dan wajahnya selalu berbinar senang. Hatinya hanya diberikan untuk Miya. Meskipun sekarang Isabella sudah mengetahui perasaan yang sebenarnya dari seorang Fabian, ia tetap saja masih tidak rela.
‘‘Aku tidak percaya kalau paman Fabian mencintaiku‘‘kata Miya tiba-tiba membuat Isabella tersadar dari lamunannya.
‘‘Kenapa tidak?‘‘
‘‘Karena dia seorang playboy. Aku takut jika aku memang mencintainya, dia akan berselingkuh dariku. Itu sebabnya aku sempat tidak setuju ketika kamu ingin menjalin hubungannya denganmu karena aku takut kamu juga akan bernasib sama dengan kekasih-kekasih paman Fabian yang lain‘‘.
Isabella menghela napas panjang, kemudian memejamkan matanya dan membiarkan angin sejuk membelai wajahnya.‘‘Kau sungguh bodoh. Apa kamu tidak lihat Fabian begitu mencintaimu. Jangan menutup hatimu. Kalau kau takut tersakiti lagi sebaiknya jangan pernah jatuh cinta lagi. Seharusnya kamu senang bisa dicintai olehnya. Kalau kamu tidak menginginkan Fabian, aku akan mengambilnya darimu‘‘.Isabella menatap Miya dengan pandangan marah.
 Miya mengenggam tangan Isabella.‘‘Maafkan aku. Nanti aku akan bicara lagi dengan paman Fabian‘‘.
‘‘Kamu tidak perlu bicara lagi dengannya. Semuanya sudah jelas bagiku. Aku dan Fabian sekarang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dan aku benci kepadamu.Sekarang aku harus pergi‘‘.
‘‘Kumohon jangan pergi dulu!‘‘. Miya memegang tangannya, tapi Isabella menepisnya dengan kasar dan berlalu pergi begitu saja. Miya hanya bisa menangis melihat kepergian temannya itu. Cepat-cepat di hapusnya air matanya ketika Sebastian datang.
‘‘Nanti aku akan bicara kepadanya. Bella harus mendengarkan apa yang aku katakan‘‘. Sebastian memeluk Miya berusaha untuk menenangkannya.
♫♫♫♫
Satu minggu telah berlalu sejak ia kembali berada di mansion pamannya. Orang tua dan adiknya telah kembali ke Jepang dan sekarang ia kembali tinggal berdua dengan pamannya. Seminggu ini hubungan Miya dan pamannya menjadi tegang, saling menghindar satu sama lain. Fabian hanya akan menyapanya bila perlu begitu juga sebaliknya. Miya menghela napas panjang. Fabian tidak pernah lagi untuk mencoba menciumnya atau pun menjahilinya juga membuatnya marah. Ia menjalani hidup di mansion pamannya dengan sangat tenang, tapi secara diam-diam Miya merasa kehilangan suasana yang dulu dengan pamannya.Rindu dengan keisengan pamannya dan yang paling menyebalkan ia harus mengakui kalau ia merindukan kehadiran pamannya karena akhir-akhir ini ia jarang sekali bertemu dengannya. Hampir setiap hari Fabian selalu pulang larut malam dan pergi ke kantor pagi-pagi sekali.
Seperti pagi ini ia sudah menemukan pamannya telah pergi ke kantor saat ia tengah bersiap-siap kembali masuk kuliah. Seperti biasa Mary Jane mempersiapkan segala keperluannya.
Miya tiba di kampusnya tepat ketika pelajaran pertama dimulai. Ia melihat Isabella duduk disamping Sebastian dan ketika tatapan mereka bertemu Isabella langsung membuang wajahnya. Ia tidak tahu mau sampai kapan mereka akan terus bermusuhan seperti ini. Suasana kelas tiba-tiba menjadi hening ketika seseorang mulai masuk ke dalam ruangan kelas. Baik Miya, Isabella dan Sebastian terkejut ketika melihat Fabian masuk. Semua orang langsung berbisik-bisik terkait dengan keberadaan Fabian. Ketika mata mereka bertemu, Miya langsung memalingkan wajahnya dan lalu samar-samar ia melihat pamannya memandang dirinya dari kejauhan dengan tatapan tenang yang menyembunyikan kesedihan.
Setelah mendengar penjelasan akhirnya Miya tahu kalau hari ini Fabian akan menjadi dosen tamu dalam kuliah manajemen strategi. Miya mengakui  pamannya begitu terampil dalam memberikan penjelasan. Setiap kata yang diucapkannya , Miya dapat memahaminya dengan jelas.  Sementara itu Fabian yang hendak mengejar Miya setelah seminar berakhir,langkahnya terhalang oleh para wanita yang langsung menyerbunya untuk hanya sekedar menyentuhnya dan berkenalan dengannya. Ketika Fabian sudah terbebas, Miya sudah menghilang di depan matanya.
Miya menghirup udara segar ketika beradaya ssudah menghilang di depan matanya.
 di taman belakang kampusnya. Ia duduk disebuah bangku  yang menghadap ke sebuah kolam besar. Miya melamun dan menyadari kalau ia tidak bisa terus-menerus menghindari pamannya. Di pejamkan matanya sambil menikmati hembusan angin sejuk yang membelai tubuhnya. Tidak lama ia mendengar suara sama-samar yang begitu dikenalnya dan suara itu semakin terdengar jelas. ‘’Miya chan....Miya chan....’’. Miya membuka matanya dan mencari asal suara itu. Mata berwarna aquamarine itu terbuka lebar.  Miya melompat berdiri. Pria itu langsung mendekat dan langsung memeluk Miya yang masih terkaget-kaget dengan kedatangan Ryusuke. ‘’Yatto kimi o mitsuketa(Akhirnya aku menemukanmu)’’ujar Ryusuke dengan wajah berbinar senang.Ryusuke menjauh sedikit supaya dapat melihat wajah Miya.
‘’Naze kimi wa koko ni iru no?(Kenapa kau ada disini?)’’.
Ryusuke tersenyum. ‘’Kimi o sagasu tame ni koko ni kita yo(Aku kesini untuk mencarimu)’’.
‘’ Kau dan aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi’’ucap Miya dengan suara tegas. Ingatan tentang perselingkuhan Ryusuke kembali hadir di ingatannya. Miya langsung mendorongnya jauh.
 ‘’ Selama seminggu aku datang kemari tiap hari, tapi kamu tidak ada.Kau masih marah padaku. Aku mengerti, kau tidak akan mudah memaafkanku, tapi aku sangat menyesal dan berharap bisa kembali memulai hubungan lagi denganmu.’’.
‘’Apa kau bilang? Jangan harap aku akan kembali kepadamu’’ujar Miya kesal.
‘’Ayolah Miya! Aku tahu kau masih mencintaiku’’.
‘’Kau tidak tahu apa-apa sekarang tentang perasaanku’’.
‘’Apa sekarang kau sudah memiliki kekasih baru?’’
‘’Itu bukan urusanmu’’.
‘’Baiklah. Tapi aku tidak akan menyerah untuk kembali mendapatkanmu. Aku yakin kau masih punya perasaan padaku’’katanya dengan penuh percaya diri.
‘’Lalu bagaimana dengan kekasih barumu?’’
‘’Aku sudah putus dengannya karena aku menyadari hanya dirimu yang aku inginkan’’.
Ryusuke kembali memeluk Miya.’’ Pulanglah denganku ke Jepang! Kita mulai dari awal lagi. Aku janji akan selalu setia kepadamu’’. Miya diam dalam pelukan Ryusuke. Ada satu hal yang membuat dirinya tersadar yaitu ketika Ryusuke memeluknya, ia tidak merasakan apa pun lagi. Tidak ada rasa cinta di dalam dirinya untuk Ryusuke. Tidak merasakan getaran lagi di hatinya. Miya melepaskan pelukan Ryusuke , lalu ditatapnya pria itu dalam-dalam. Dulu ia mencintai pria yang ada dihadapannya sekarang. Ryusuke pernah  menjadi pria terpenting dalam hidupnya yang sudah mengisi hatinya selama dua tahun, tapi setelah ia pikirkan kembali sudah tidak ada lagi rasa cinta yang dirasakannya terhadap Ryusuke  . Cinta untuknya sudah tidak ada lagi.
‘’Ada apa?’’tanya Ryusuke bingung.
‘’Tidak ada apa-apa. Hanya aku tidak menyangka kau akan datang jauh-jauh kesini untuk bertemu denganku dan memintaku kembali padamu. Kau sungguh berani setelah pengkhianatan yang kau lakukan padaku’’.
‘’Sudah  kukatakan aku sangat menyesal. Aku mencintaimu Miya. Sungguh. Kau harus percaya padaku kali ini’’.
‘’Entalah. Saat ini aku tidak ingin mempercayai siapa pun ’’.
‘’Aku tidak akan memaksamu sekarang. Aku akan menunggumu’’.
‘’Jangan menungguku’’.
‘’Aku akan menunggumu’’kata Ryusuke bersikeras.
‘’Terserah kau saja. Dasar keras kepala’’ kata Miya kesal.
Di kejauhan  Fabian dan Gilbert memperhatikan mereka berdua. Diam-diam Gilbert mencuri pandang ke arah Fabian. Wajah sahabatnya itu nampak dingin dan tatapan matanya berubah jadi gelap. Perasaan cemburu, marah terlihat jelas di wajahnya. Gilbert menyunggingkan senyuman samar. Fabian cemburu. Belum pernah ia melihat sahabatnya secemburu ini. Gilbert menepuk pelan punggungnya. ‘’Sebaiknya kita kesana menyapa mereka’’. Gilbert pergi berjalan mendahului Fabian. ‘’Halo Miya! Siapa pria tampan disampingmu ini?’’
‘’Gilbert....’’seru Miya terkejut.
‘’Siapa pemuda ini?’’
‘’Ini Ryusuke Nakashima. Mantan pacarku. Ryu, ini Gilbert’’.
‘’Senang berkenalan dengan Anda’’.
‘’Ah ini mantan pacarmu. Senang berkenalan denganmu juga’’.
Gilbert kemudian membisikkan sesuatu di telinga Miya.’’Sepertinya ada seseorang yang sedang cemburu’’goda Gilbert sambil mengerling ke arah Fabian yang berada dibelakangnya. Saat itu Miya baru menyadari kehadiran pamannya yang nampak marah.
‘’Miya chan, siapa dia?’’tanya Ryusuke yang memandangi Fabian dari bawah sampai ke atas. Ryusuke sedikit terkejut dengan penampilan pria yang ada dihadapannya begitu rapi dan elegan, selain itu wajahnya sangat tampan, tapi ada sesuatu dari tatapan matanya yang membuat dirinya merinding ketakutan, tatapan rasa tidak suka dan benci terhadap dirinya.
‘’Ini pamanku. Aku tinggal disini bersama dengannya’’. Dengan rasa gugup dan takut akhirnya Miya memperkenalkan pamannya dengan Ryusuke.’’Paman Fabian, ini Ryusuke’’.
‘’Aku sudah mendengar namanya tadi’’jawab Fabian dengan suara dingin.
‘’Halo tuan...’’
‘’Baskerville’’sambung Fabian sambil mengulurkan tangannya. Sekuat tenaga Fabian menahan rasa marah dan cemburu pada Ryusuke. Fabian mengenggam erat tangan Ryusuke.
‘’Senang berjumpa dengan Anda tuan Baskerville’’.
‘’Aku juga’’kata Fabian sambil melepaskan tangannya.
Fabian masih menatapnya tajam. Ia tidak menyangka kalau akhirnya ia dapat bertemu dengan Ryusuke. Pria yang pernah disebut namanya ketika Miya sedang tidur. Ia merasa sangat cemburu karena Ryusuke pernah menjadi bagian hidup dari Miya dan juga pria yang pernah dicintai Miya, meskipun mereka berdua sudah putus, ia tidak rela Miya selalu berdekatan dengannya. Ia takut Miya akan kembali kepadanya dan takut Ryusuke kembali untuk mengambil Miya dari sisinya.  Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Suasana menjadi tegang dan sunyi , membuat Miya ingin secepatnya melarikan diri dari situasi ini.
Gilbert yang menyadari situasi yang sedang terjadi berdeham.’’Ehm...ehm...perkenalannya cukup sampai disini dulu. Sebaiknya kita mencari tempat yang enak untuk berbicara. Sepertinya beberapa orang sudah mulai memperhatikan kita. Bagaimana kalau kita pergi ketempat yang lebih pribadi untuk bicara’’.
‘’Baik’’jawab Miya langsung menyetujui. Mereka pergi ke sebuah cafe yang berada di depan kampusnya.  Disana mereka duduk saling berhadapan. Miya mengigit bibir bawahnya dan terus menunduk tidak mampu menatap wajah pamannya yang nampak dingin dan marah.Suasana sunyi dan tegang kembali terjadi. ‘’Berapa lama kamu berencana tinggal disini Ryusuke?’’tanya Gilbert untuk mencairkan suasana.
‘’Aku belum tahu, mungkin aku akan kembali ke Jepang setelah Miya mau kembali menjadi kekasihku’’jawabnya terus terang yang membuat Fabian terbakar oleh rasa cemburu.
Fabian yang duduk disamping Gilbert mengepalkan kedua tangannya dibawah meja dengan erat. Ditambah lagi Ryusuke dengan beraninya merangkul bahu Miya dan mengecup keningnya, mengenggam tangannya, membuat kemarahannya sudah mencapai batasnya dan ingin memukulnya. Gilbert langsung menahan tangannya dengan kuat. Miya juga merasa tidak enak dengan situasi ini. Ia tahu saat ini pamannya sedang menahan marahnya , tapi ia tidak perduli.
‘’Bagaimana denganmu Miya?’’
Dengan gugup Miya berkata,’’ Aku akan kembali kepada Ryusuke karena aku masih mencintainya’’. Miya berbohong. Ia lakukan supaya pamannya tidak mengharapkan cintanya lagi .
Ryusuke terlihat sangat senang. ‘’Benarkah itu?’’
‘’Iya Ryu. Itu benar’’. Ryusuke nampak senang. Ia langsung meraih tangan Miya dan menciumnya. Fabian yang sudah tidak dapat menahan marahnya dan tidak tahan melihat sikap mesra Ryusuke terhadap Miya, memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun . Gilbert pun menyusulnya.
‘’Ada apa dengan pamanmu itu? Aneh sekali. Sepertinya dia tidak suka padaku’’.
‘’Sudah jangan pikirkan itu. Pamanku memang sedikit aneh’’kata Miya dengan senyuman yang dipaksakan.’’Selain itu....’’
‘’Apa?’’
‘’Lupakan saja perkataanku tadi kalau aku akan kembali kepadamu’’.
‘’Tapi kau bilang kau masih mencintaiku’’.
‘’Aku bohong’’.
‘’Tapi kenapa?’’
‘’Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Sebaiknya kau pulang saja ke Jepang’’. Miya akhirnya meninggalkan cafe itu, meninggalkan Ryusuke yang nampak bingung.
♪♪♪♪
Fabian masuk ke dalam mobilnya begitu juga dengan Gilbert. Di dalam Fabian nampak sangat marah dan kesal.’’Kau lihat tadi dengan senangnya pria itu merangkul Miya , menciumnya dan mengenggam tangannya. Itu membuatku merasa muak. Dia berani-beraninya bersikap seperti itu kepada Miyaku’’kata Fabian dengan penuh kemarahan.
 ‘’Hei! Tenangkan dirimu sedikit!’’.
‘’Bagaimana aku mau tenang, melihat wanita yang aku cintai disentuh oleh pria lain’’teriak Fabian.
‘’Aku mengerti dengan kemarahan dan kecemburuanmu itu. Aku juga tidak akan rela jika melihat wanita yang kucintai disentuh oleh pria lain, jadi sekarang tenangkan dirimu’’.
Napas Fabian terengah-engah menahan emosinya.’’Aku ingin sekali memukulnya. Seandainya tadi kau tidak menahanku, pasti aku sudah memukulnya dan membuatnya babak belur’’.
‘’Jika aku tidak menahanmu, pasti sudah terjadi keramaian di cafe itu dan kau akan menjadi bahan gosip dan bisa saja Ryusuke akan menuntutmu atas pemukulan yang terjadi kepadanya. Kau harus berterima kasih kepadaku untuk hal ini’’.
Fabian memandang kesal pada Gilbert.
 ‘’Kau harus ingat sebelum Miya putus dengan Ryusuke, aku yakin mereka sudah sering berciuman’’.
 Fabian kembali merasa muak membayangkan Miya berciuman dengan Ryusuke. ‘’Sekarang mereka sudah putus dan aku tidak akan membiarkan pria itu menyentuh Miya lebih jauh lagi apa lagi kalau sampai mereka berciuman di bibir. Miya adalah milikku sekarang’’.
‘’Aku tahu. Miya adalah milikkmu sekarang. Kau harus menenangkan dirimu sekarang dan kau juga jangan memarahi Miya jika dia pulang nanti. Bicaralah baik-baik padanya, jika kau tidak ingin Miya pergi dari sisimu’’.
‘’Itu tidak akan terjadi’’.
‘’Bagus. Sekarang tenangkan dirimu. Kau harus dapat menahan emosimu dan jangan kehilangan kendali atas dirimu. Aku belum pernah melihatmu lepas kendali seperti ini. Biasanya kau selalu dapat mengendalikan dirimu dan juga emosimu. Cinta memang membuat seseorang menjadi gila’’.
Fabian memutuskan untuk kembali ke mansionnya dan semua urusan pekerjaan hari ini, ia serahkan kepada Gilbert karena tidak ada hal penting yang ia lakukan lagi disana. Dikamarnya Fabian menjadi uring-uringan dan menuangkan wiski banyak-banyak kedalam  gelasnya. Ia tidak boleh membiarkan pria itu mendekati Miya lebih dari yang seharusnya. Diteguknya minuman itu sampai habis dan mengisi ulang kembali gelasnya sampai penuh. Hatinya mendengus kesal.
Sore menjelang malam masih belum ada tanda-tanda kepulangan Miya. Fabian merasa gelisah dikamarnya. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil terus melihat jam. Fabian terus membayangkan hal yang buruk di kepalanya. Bayangan Ryusuke mencium dan membelai tubuh  Miya terus berada dibenaknya.
Itu tidak boleh terjadi. Tidak boleh terjadi. Miya pasti akan menjaga diri dari pria itu. Aku percaya padanya.
Fabian kembali meminum wiskinya untuk kesekian kalinya dan yang ditunggu Fabian akhirnya datang juga. Miya telah kembali dan ia dapat mendengar suara langkah cepatnya di koridor. Fabian langsung keluar kamar dan ia melihat Miya sedang membuka pintu kamarnya. Dengan perasaan marah dan kesal, ia menghampiri Miya dan mencengkeram tangannya.
‘’Kau dari mana saja? Kau tahu ini jam berapa? Seharusnya kau sudah pulang sejak dari tadi’’tanya Fabian dengan suara tinggi. Miya langsung ketakutan. Ia tahu saat ini pamannya sedang marah dan dari mulutnya tercium bau alkohol. ‘’Ini baru jam 9 masih sore’’kata Miya tidak mau kalah.
‘’Apa kau menghabiskan sisa hari ini bersama dengan pria itu?’’tanya Fabian dengan nada suara cemburu. ‘’Iya aku memang bersama dengannya dan lagi pula itu bukan urusanmu’’jawab Miya tidak kalah kesalnya.
‘’Tentu saja itu urusanku juga’’balas Fabian dengan suara dingin sambil menahan marahnya. Miya dapat melihat sorot kemarahan yang memancar dari mata pamannya. ‘’Tolong lepaskan tanganku!’’
‘’Ayo ikut aku!’’. Fabian menyeret Miya dengan tergesa-gesa.
‘’Paman mau membawaku kemana?’’. Fabian membuka pintu kamarnya dan langsung menutupnya. Ini pertama kalinya Miya masuk ke kamar pamannya. Gadis itu sungguh terkesan dengan keadaan kamarnya begitu sangat rapi dan barang-barang yang ada di kamar itu tertata dengan baik.Tidak seperti kebanyakan kamar pria lainnya yang berantakan, lalu Miya membayangkan kamar Ryusuke yang selalu berantakan dan setiap kali ia harus membersihkannya.‘’Kenapa paman membawaku kesini?’’
‘’Kita tidak bisa bicara di koridor. Para pelayan akan mendengar pembicaraan kita nanti’’.
‘’Aku tidak perduli jika pelayan atau siapa pun yang mendengar kita’’kata Miya kesal.
‘’Kau.....’’. Fabian terlihat sangat kesal dan rasanya ingin mengguncang-guncang bahu Miya .
Miya menatap Pamannya dengan penuh rasa percaya diri. ’’Sekarang apa yang paman inginkan dariku?’’
‘’Aku tidak ingin kau dekat-dekat dengan pria itu’’.
‘’Pria itu punya nama. Namanya Ryusuke’’.
‘’Aku tidak perduli siapa pun namanya ,yang hanya aku inginkan kau harus menjauhi dia ’’. Mata Fabian berkilat penuh marah.
‘’Saat ini aku tidak mungkin untuk tidak menjauhinya. Disini dia tidak mempunyai orang yang dikenalnya kecuali aku. Mungkin aku akan menemaninya selama dia ada disini , lagi pula dia bukan penjahat. Dia hanya mantan pacarku’’.
‘’Dan dia ingin kembali padamu’’.
‘’Aku tahu itu. Dia sudah mengatakannya padaku berulang kali’’.
‘’Apakah kau akan kembali kepadanya? Apa kau masih mencintainya?’’tanya Fabian dengan perasaan takut.
‘’Itu bukan urusanmu, lagi pula urunmkanepadanya dan aku masih Ryusuke adalah pria yang pernah hadir dihatiku. Apa paman cemburu?’’.
‘’Iya aku cemburu. Sangat cemburu. Jangan kembali kepadanya. Aku mohon!’’.
‘’Kau tidak berhak melarangku untuk kembali kepadanya’’.
‘’Tentu saja aku berhak, karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kau bersamanya lagi. Kau adalah milikku’’ kata Fabian dengan wajah perasaan sedih yang tercermin jelas diwajahnya.
‘’Sudah aku katakan kalau aku tidak percaya paman mencintaiku.Ini sungguh tidak masuk akal. Kamu adalah pamanku ‘’.
‘’Kalau aku adalah pamanmu memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh mencintaimu?Lagi pula kau bukan keponakan kandungku’’.
‘’Aku tahu itu, tapi ini akan terasa sangat aneh saja’’. Lalu Miya menatap curiga Fabian.’’Atau m’’. Fabiohon!’’. Fabian akhirnyungkin paman hanya menginginkan tubuhku seperti yang telah paman lakukan kepada wanita-wanita lainnya, kepada kekasih-kekasih paman di luar sana dan aku tidak ingin menjadi salah satu dari para wanita itu. Sebaiknya paman mencari wanita lain saja dan aku bukan barang yang seenaknya paman miliki. Paman tidak punya hak mengatur hidupku. Dengan siapa aku akan jatuh cinta, itu urusanku. Hidupku adalah milikku’’. Miya meninggalkan Fabian dan pria itu hanya bisa menatap kepergian Miya dengan wajah kaku yang terkesan dingin.

My miya part 9 ada di www.wattpad.com. Username: sereluna. Lanjutannya ada disana ya :D

Bersambung







My Miya 7

Isabella dan Fabian saling menatap satu sama lain dan keduanya nampak terkejut. ‘’Apa yang kau lakukan disini?’’tanya Fabian.
‘’Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kamu lakukan disini?’’balas Isabella kembali bertanya.
‘’Tentu saja menjenguk Miya’’.
‘’Kau kenal dengannya?’’. Isabella masih memasang ekspresi terkejut dan ada rasa tidak percaya.
‘’Dia adalah keponakanku’’jawab Fabian sambil menatap Miya dengan lembut.’’Lalu kau?’’
‘’Aku temannya Miya. Aku datang kesini bersama dengan Sebastian. Ini kebetulan sekali. Kamu adalah pamannya Miya’’serunya   senang.
‘’Iya . Ini memang kebetulan. Aku tidak pernah tahu kau adalah temannya’’. Isabella tersenyum, lalu mendekati Fabian. Tanpa di duga gadis itu langsung memeluknya dan Fabian terkejut dengan reaksinya. ‘’Bella, kumohon jangan seperti ini’’. Fabian berusaha melepaskan pelukan gadis itu.
‘’Ini sungguh luar biasa. Kau dan Miya adalah satu keluarga. Aku belum bisa mempercayainya’’.Isabella nampak sangat senang dan tatapannya terus melekat pada pria di hadapannya. Suara berdeham membuat keduanya menoleh. Sejenak mereka berdua melupakan keberadaan Sebastian disana. Isabella langsung melepaskan pelukannya  dan wajahnya merona malu.
‘’Maaf. Kalau aku sudah menganggu kesenangan kalian. Aku harus pergi sekarang. Aku lupa ada janji dengan salah seorang temanku yang baru kembali dari Inggris. Apa kau mau ikut pulang bersamaku atau tinggal disini lebih lama lagi?’’ tanya Sebastian.
Isabella terlihat ragu.Ia sebenarnya sudah ada janji juga dengan adiknya dan tidak mungkin untuk membatalkannya lagi. Kalau sampai ia membatalkannya adiknya pasti akan marah besar. ’’Sebaiknya aku pulang saja. Nanti aku akan datang lagi besok’’. Gadis itu menghadap ke  Fabian. ‘’Boleh kan aku datang lagi besok?’’
‘’Tentu saja. Tidak ada yang melarangmu untuk datang lagi kesini’’jawab Fabian. Isabella tersenyum lebar.’’Sampai Jumpa!’’. Sebelum pergi ia menyunggingkan senyuman hangat untuk Fabian dan mengecup pipinya.
Setelah mereka berdua pergi Fabian duduk di kursi disamping tempat tidur menatap diam Miya yang sedang tidur nyenyak. Gadis itu memang godaan terbesarnya yang sulit diabaikan.  Garis bibirnya melengkung menyunggingkan sebuah senyuman bahagia. Fabian menelan ludahnya . Saat ini yang ingin dia lakukan adalah memeluk dan menciumnya. Pandangan matanya mengarah ke bibir Miya. Ia belum bisa melupakan rasa bibirnya yang manis sekaligus memabukkan, lalu tiba-tiba bayangan tubuh polos Miya yang menempel  di bawah tubuhnya membuat Fabian mengerang frustasi.
Suara pintu terbuka mengejutkannya dan di balik pintu muncul seorang wanita berambut berwarna madu dengan kulitnya yang seputih susu dan wajahnya cantik sekaligus memikat yang menyimpan suatu keanggunan dalam dirinya. Fabian tersenyum senang ketika bertemu pandang dengan wanita itu. Wanita itu adalah Sabrina Caryn ibunya Miya sekaligus kakak sepupunya.  ‘’Sabrina’’seru Fabian. Fabian langsung memeluknya. Sabrina tidak berubah tetap seperti dulu. Cantik dan sangat anggun dan warna matanya sama dengan Miya. Warna mata aquamarine yang sangat indah, lalu dibelakangnya muncul seorang pria sambil menggendong seorang anak kecil. Pria itu adalah ayahnya Miya  Kouki dan anak kecil itu adalah adik laki-lakinya Miya yang bernama Hiroshi.
Mereka terlihat sangat cemas ketika melihat Miya yang sedang tertidur. Sabrina mencium kening putrinya sambil menitikkan air mata, lalu Fabian menceritakan semua yang terjadi pada mereka. ‘’Maafkan aku. Ini semua karena kelalaianku . Aku sudah berjanji kepada kalian untuk menjaganya’’kata Fabian dengan suara penuh penyesalan.
Kouki meletakkan tangannya dipundang Fabian, lalu berkata,’’ Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Kau sudah baik menjaga Miya selama tinggal disini’’.
‘’Ini untuk paman Fabian’’kata Hiroshi sambil menyimpan permen lolipop di tangannya. ‘’Sekarang paman jangan bersedih lagi’’. Fabian tersenyum.’’Terima kasih hiro sayang’’. Hiroshi tersenyum lebar.
♪♪♪♪
Miya sangat senang ketika ia berada kembali di mansion pamannya. Setelah selama satu minggu di rawat di rumah sakit. Ayah dan ibunya juga selalu setia menemaninya selama ia sakit meskipun Miya tahu ayah dan ibunya sibuk . Miya sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat sayang kepadanya. Ditambah lagi perhatian pamannya yang sangat posesif yang kadang membuatnya merasa terganggu. Fabian memperlakukan dirinya seperti barang yang akan pecah.
Fabian juga melarangnya untuk keluar kamar dan melakukan banyak aktivitas. Ia selalu mengawasinya agar Miya selalu berada di kamar tidur sampai Miya benar-benar sehat kembali. Ia merasa sangat kesal dengan pamannya. Rasanya ia ingin sekali meninju wajahnya yang tampan . Miya juga dipusingkan oleh kedua temannya. Selama ia di rawat di rumah sakit juga Isabella datang setiap hari.  Ia terus-terusan memintanya untuk memberitahu semua tentang paman Fabian bahkan ia sering mengunjungi mansion pamannya hampir tiap hari demi melihat dan berdekatan dengan sang paman yang akhir-akhir ini selalu sering berada di rumah pada siang hari. Padahal sebelumnya pamannya akan berada di rumah kalau hari sudah malam. Ia begitu terkejut ketika Isabella memberitahu kalau pria yang disukai dan dijodohkannya dengannya adalah paman Fabian.
Hari ini Miya melihat keakraban pamannya dengan Isabella ketika melihat mereka berdua sedang berbicara di halaman belakang rumah melalui jendela kamarnya. Keduanya terlihat sangat senang dan yang membuat Miya terkejut,  Isabella tiba-tiba menciumnya. Hal itu membuat Miya shock dan ada perasaan tidak suka yang menyelinap ke dalam dirinya. Ia langsung menjauh dari jendela tidak ingin melihat kemesraan mereka lebih jauh lagi. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi dan sebentar lagi mungkin akan ada pesta pernikahan.
Isabella adalah wanita yang sangat cantik juga baik dan Miya sudah bisa memastikan kalau pamannya sudah mulai menyukai temannya itu. Paman Fabian sudah lama hidup menyendiri sudah saatnya ia untuk menikah kembali dan Miya pikir Isabella adalah wanita yang cocok untuk pamannya. Baru saja ia akan menaiki tempat tidur. Isabella memasuki kamarnya dengan wajah gembira, lalu ia duduk di tepi tempat tidur. ‘’Aku rasa Fabian sudah bisa menerimaku di dekatnya. Ini suatu awal yang bagus, bukan?’’
‘’Kalau begitu aku ucapkan selamat dan semoga saja paman Fabian tidak membuatmu kesal setengah mati’’ucap Miya dengan cuek.’’Karena dia selalu bersikap menyebalkan terhadapku’’.
‘’Tidak. Fabian tidak pernah membuatku merasa kesal dan bersikap menyebalkan kepadaku. Dia sangat baik , perhatian dan bersikap sopan kepadaku. Kalau aku menikah dengannya. Kita akan menjadi satu keluarga.Pasti itu akan sangat menyenangkan’’.
‘’Itu pasti akan menyenangkan dan kau akan menjadi bibiku. Bibi paling muda yang pernah aku miliki’’. Miya tersenyum geli ketika memikirkan Isabella akan menjadi bibinya suatu hati nanti.
Isabella tertawa terkekeh.’’ Benar juga dan kau adalah calon keponakanku’’. Tiba-tiba raut wajah Isabella berubah menjadi muram. ‘’Ini sungguh mimpi yang indah kalau menjadi kenyataan, tapi apakah aku akan berhasil membuat Fabian mencintaiku’’.
Miya mengenggam tangan Isabella dengan lembut.’’Bukannya paman Fabian sungguh sangat menyukaimu. Aku lihat beberapa terakhir ini kalian begitu sangat akrab’’.
‘’Itu benar. Kami akhir-akhir ini menjadi semakin akrab, tapi aku belum bisa menempati posisi istimewa di hatinya karena aku tahu Fabian sedang menyukai seseorang dan aku tidak tahu siapa wanita yang disukai Fabian saat ini’’.
Miya mengernyitkan dahi tidak mengerti. ‘’ Bukannya wanita yang disukai oleh paman Fabian adalah kamu’’.
‘’Bukan aku. Tapi wanita lain. Fabian tidak pernah mengatakan siapa wanita itu’’. Miya terdiam, lalu ia teringat dengan wanita yang bernama Helena. Apa wanita yang disukai pamannya adalah Helena?Tapi akhir-akhir ini pamannya tidak pernah menyebut nama wanita itu lagi.
‘’Aku akan mencari tahu tentang wanita yang disukai oleh paman Fabian’’.
Mata Isabella berkilat senang. ‘’Sungguh?’’. Miya mengangguk. Isabella langsung memeluk Miya. ‘’Terima kasih. Kamu memang temanku yang paling baik’’.  Kedua sudut mulut Miya terangkat untuk menyunggingkan senyuman tertahan. ‘’Sudah saatnya aku pergi. Hari sudah beranjak sore pasti ayah dan ibuku mengomel lagi soal kunjunganku yang terlalu sering kesini. Menurut mereka aku terlalu agresif mengejar Fabian dan itu tidak baik menurut mereka . Mereka takut kalau Fabian akan merasa takut dengan keagresifanku. Itu adalah alasan terkonyol yang pernah aku dengar .Itu salah mereka menjodohkanku dengan Fabian kalau tidak mungkin aku tidak seagresif ini untuk mendekatinya’’.
Miya hanya menahan tawanya dan Isabella mengecup keningnya. ‘’Sampai jumpa lagi!’’
Setelah Isabella pergi , Miya bermaksud untuk tidur sebentar sebelum makan malam, tapi ketenangannya terganggu dengan kedatangan Fabian ke kamarnya. Pria itu duduk di pinggir tempat tidurnya sambil tersenyum dan ada kilatan jahil di matanya. ‘’Aku ingin memastikan kamu berada di kamarmu’’kata Fabian dengan suara lembut dan menenangkan.
‘’Seperti paman lihat aku ada di kamarku dan aku merasa bosan terus-terusan berada disini’’balas Miya ketus.
‘’Ini demi kebaikanmu’’. Fabian lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Miya. Jarak bibir mereka hanya tinggal beberapa senti lagi. Miya berusaha meredakan debaran jantungnya  dan tatapan pria itu  mengirimkan sensasi getaran asing pada dirinya yang baru pertama kali ia rasakan sekarang. Miya memejamkan matanya ketika Fabian hendak menciumnya, tapi yang dilakukan Fabian hanya mengecup keningnya lebih lama yang mengirimkan getaran nikmat kesekujur tubuhnya. ‘’Sekarang istirahatlah!’’. Miya tidak bisa berkata apa-apa lagi selain membenamkan dirinya di bawah selimut.
Fabian terkejut ketika mendapati Sabrina berada di depan pintu kamar Miya dengan ekspersi wajah tidak terbaca. ‘’Fabian bisa ikut aku sebentar’’. Fabian menurutinya dan mengikuti Sabrina memasuki ruang keluarga di lantai dua. Mereka berdua duduk disebuah sofa yang cukup panjang. Sabrina memperhatikan Fabian selama beberapa detik sebelum ia memulai pembicaraan. ‘’Apa kau jatuh cinta kepada putriku?’’tanya Sabrina tanpa basa basi lagi. Spontan saja  Fabian terkejut dan pria itu gelagapan saat kakak sepupunya menatapnya dengan rasa penasaran yang tidak dapat disembunyikan. Tatapan tajam matanya seperti mampu menembus jauh ke dalam hatinya. ‘’Akui saja. Aku tidak akan marah. Selama ini aku selalu memperhatikan interaksi antara kalian berdua. Terutama kau Fabian. Kau sangat perhatian kepada Miya dan apa lagi cara kau menatapnya’’.
Fabian menghela napas panjang kemudian mencondongkan tubuhnya kedepan dan mengaitkan jari-jarinya di kedua lututnya. Tatapannya menerawang jauh ke depan. ‘’Iya aku mencintainya’’. Fabian mengakuinya. ‘’Tanpa aku sadari aku telah jatuh cinta kepada Miya. Selama ini aku menutup pintu hatiku kepada wanita, tapi sejak kehadiran Miya disini , kehadirannya sedikit mengusik diriku dan perlahan-lahan Miya sudah memenuhi pikiranku’’.
‘’Apa Miya sudah tahu tentang perasaanmu ini?’’
‘’Tidak. Dia sama sekali tidak tahu’’.
‘’Kenapa tidak kamu katakan saja kepadanya?’’
‘’Aku ingin sekali mengatakannya, tapi tidak sekarang. Karena aku tahu saat ini Miya tidak mencintaiku . Dia masih memandang aku sebagai pamannya. Aku ingin perlahan-lahan merebut hatinya dan jatuh cinta kepadaku. Apa kamu marah aku telah jatuh cinta kepada putrimu?’’
‘’Tentu saja tidak.’’. Sabrina tersenyum lebar. ‘’Aku mendukungmu untuk mendapatkan hati putriku’’.
‘’Sungguh?’’
Sabrina mengangguk cepat. ‘’Mungkin kamu adalah pria yang tepat untuknya. Tidak masalah kamu pamannya atau bukan. Tapi aku ingatkan tidak mudah merebut hati Miya karena dia pernah disakiti oleh seorang pria mantan pacarnya yang bernama Ryusuke . Miya mencintainya, tapi pria itu mengkhianatinya. Kasihan Miya’’.
Sabrina masih ingat betul ketika Miya bercerita soal hubungannya dengan Ryusuke sebelum keberangkatannya ke New York. Ia tahu kalau putrinya sedang menjalani suatu hubungan dengan pria itu dan selama ini ia mengira hubungan mereka baik-baik saja dan berharap mereka nanti akan menikah karena yang ia tahu Ryusuke mencintai Miya begitu juga sebaliknya, tapi kenyataan berkata lain Ryusuke berselingkuh dan membuat Miya sedih.
‘’Apa Miya masih mencintai mantan kekasihnya?’’tanya Fabian hati-hati.
‘’Entalah. Aku tidak tahu. Lalu Bagaimana dengan Isabella calon istrimu?’’
‘’Dia bukan calon istriku. Aku sudah menolak perjodohan ini, tapi sepertinya Bella masih belum menerimanya. Dia yakin suatu hari nanti aku akan mencintainya’’.
Sabrina tersenyum lembut penuh keibuan.’’ Sayang sekali Bella adalah gadis yang sangat baik. Aku jadi merasa kasihan kepadanya. Bagaimana pun perasaan memang tidak bisa dipaksakan’’. Sabrina berdiri merapikan pakaiannya.’’Aku akan melihat Miya sebentar’’. Fabian hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
♫♫♫♫
Miya duduk didepan cermin setelah selesai makan malam. Mary Jane sedang menyisirkan rambutnya. Sebelum makan ia datang ke kamarnya dan meminta maaf karena telah memberikan coklat beracun kepadanya. Bagaimana pun itu bukan sepenuhnya kesalahannya.Akhirnya Miya pun memaafkannya. Awalnya Fabian tidak mengizinkannya lagi sebagai pelayan pribadinya lagi, tapi Miya membujuknya dengan alasan Mary Jane sudah mengetahui benar segala kebutuhannya dan akhirnya Fabian menyerah dan mengizinkan Mary Jane sebagai pelayan pribadinya lagi.
Sesekali Miya mencuri pandang ke pelayannya dan Mary Jane menyunggingkan sebuah senyuman untuknya ketika tatapan mereka bertemu. Mary Jane berbeda dengan pelayan lainnya. Dia pelayan termuda dan dia seorang wanita yang masih bersemangat. Selama ini Miya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang pelayannya ini. ’’Bagaimana kamu bisa bekerja disini?Kamu terlihat muda dan juga cantik seharusnya kamu tidak bekerja sebagai pelayan’’tanyanya tiba-tiba.
‘’Ceritanya panjang nona’’jawabnya dengan pipi merona merah.’’Kehidupanku sangat susah waktu itu. Orang tuaku bekerja sebagai buruh di pabrik makanan dan mereka tidak memiliki banyak uang untuk melanjutkan sekolahku ke pendidikan lebih tinggi. Jadi aku harus bekerja, memang sulit untuk mencari pekerjaan di zaman sekarang. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, saya masih belum mendapat pekerjaan. Suatu hari saya hampir ditabrak mobil saat sedang mencari pekerjaan. Seseorang telah menyelamatkanku dan orang itu adalah tuan Fabian. Bagiku tuan Fabian seperti malaikat penolongku. Ia membelikan makanan yang enak untukku dan saat itu juga saya memutuskan ingin bekerja untuknya menjadi apa saja. Pada awalnya tuan Fabian menolakku, tapi saya berusaha membujukknya supaya saya dapat bekerja untukknya , lalu saya mendengar kalau dia membutuhkan seorang pelayan lagi karena salah satu pelayannya telah mengundurkan diri. Tanpa pikir panjang lagi , saya bersedia bekerja kepadanya sebagai pelayan untuk membalas kebaikannya kepadaku. Tidak terasa aku sudah bekerja kepadanya selama empat tahun’’.
‘’Kamu pelayan yang setia. Apa tidak pernah terlintas dipikiranmu meskipun hanya sedikit untuk pindah pekerjaan? Mungkin kau sudah merasa bosan sebagai pelayan’’.
‘’Tidak. Aku senang bekerja disini dan tuan Fabian menyukai pekerjaanku. Itu sudah cukup bagiku. Saya sudah selesai menata rambut Anda’’.
‘’Terima kasih. Kau pintar sekali menata rambut’’. Wajah Mary Jane merona merah.
‘’Sebaiknya Anda segera tidur ‘’. Miya mengangguk lalu beranjak ke tempat tidurnya. Setelah menyelimuti Miya, Mary Jane mematikan lampu.’’Selamat malam!’’
♫♫♫♫
Keesokan paginya Miya mendapati ibunya membawakan sarapan pagi untuknya. Sabrina tersenyum cerah ketika Miya sudah terbangun sedangkan Mary Jane membuka semua tirai jendela dan menyiapkan air mandi untuk Miya.’’Selamat pagi anak ibu yang cantik’’sapa ibunya dengan lembut.
‘’Pagi bu!’’. Sabrina mengecup kening Miya , setelah menaruh sarapan pagi di meja.
‘’Bagaiamana keadaanmu hari ini?’’
‘’Sangat baik, tapi pasti aku akan merasa bosan terus terkurung dalam kamar. Kenapa juga paman Fabian tidak memperbolehkan aku berjalan-jalan disekitar sini?’’kata Miya dengan wajah cemberutnya dan Sabrina hanya tersenyum melihat putrinya merajuk seperti itu.
‘’Itu karena Fabian sangat memperhatikan kesehatanmu. Dia sangat menyayangimu’’.
‘’Kalau dia menyayangiku seharusnya aku diperbolehkan untuk sedikit melakukan aktivitas. Kalau terkurung dikamar terus aku bisa mati kebosanan. Tolong ibu bicara kepadanya supaya aku diperbolehkan untuk keluar kamar’’ucapnya dengan penuh permohonan kepada ibunya.
Sabrina mengelus lembut kepala Miya.’’Baiklah. Nanti ibu akan mencoba bicara kepadanya’’.
‘’Terima kasih bu. Aku sayang ibu’’ucapnya sambil memeluk ibunya.
‘’Ayo sekarang sarapan pagi dulu!’’. Miya mengangguk.
Sabrina menemukan Fabian di ruang kerjanya sudah berpakaian rapi dan siap pergi ke kantor. Ia tersenyum ketika Sabrina datang dan menyuruhnya untuk duduk, lalu Sabrina mengatakan apa yang ingin dikatakannya yaitu menyampaikan keinginan Miya. Sabrina mengerti dengan perhatian posesif adik sepupunya ini kepada putrinya, tapi perhatiannya ini membuat Miya kesal.
‘’Jadi izinkan Miya untuk keluar dari kamar dan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Putriku sudah terkurung di kamarnya selama 5 hari sejak ia pulang dari rumah sakit meskipun pintu kamarnya tidak terkunci kalau mau Miya bisa diam-diam keluar kamar, tapi dia tidak melakukannya karena dia menuruti perintahmu’’. Fabian berpikir sejenak. ‘’Izinkan Miya untuk keluar dari kamarnya! Lagi pula Miya tidak akan pernah pergi keluar mansion. Kalau kamu ingin mengambil hatinya sebaiknya kamu menuruti apa yang diinginkannya’’.
‘’Baiklah’’.Fabian menyerah.
‘’Pasti Miya akan senang mendengarnya. Terima kasih’’. Fabian menghela napas panjang. Sejak dari dulu ia memang selalu mengalah kepadamya tidak bisa menolak keinginannya.
Miya yang sedang menikamati sinar matahari pagi dibalkon kamarnya sambil membaca sebuah majalah dikejutkan oleh deringan ponselnya dan ia melihat nama Isabella di layar ponselnya. Suara Isabella begitu bersemangat ketika Miya menjawab teleponnya.’’Kau sudah menananyakan kepada Fabian siapa wanita yang disukainya?’’
‘’Maaf Bella. Aku belum sempat menanyakannya, tapi akan segera kutanyakan bukan kamu saja yang penasaran tapi aku juga’’.
‘’Menurutmu siapa wanita itu? Apa kamu tidak ada bayangan sama sekali?’’
Miya kemudian berusaha mengingat-ingat kekasih paman Fabian yang lainnya selain Caroline dan Helena karena ia pernah menanyakannya kepada Mary Jane beberapa waktu yang lalu. Tracy, Veronica, Diana, Amanda, Elsa,Malinda,Amelia dan Maisea. Hanya nama-nama itu yang mampu ia ingat sisanya tidak ia ingat dan tidak satu pun di antara nama itu pernah di sebut-sebut oleh pamannya. Kalau bukan mereka siapa?
‘’Miya, kau masih disana?’’
‘’Eh i..iya. Maaf aku tidak tahu’’.
‘’Itu tidak apa-apa. Oh ya kau tahu besok aku akan kencan dengan Fabian. Aku mengajaknya nonton dan makan malam bersama dan dia menyetujuinya. Itu hebat bukan? Fabian kan orangnya sibuk dan dia masih menyempatkan mau berkencan denganku. Aku sangat senang sekali. Nanti aku akan meneleponmu lagi sekarang aku harus segera pergi’’. Miya memandangi ponselnya yang sudah di putus oleh Isabella dan Miya hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, lalu melanjutkan membaca majalahnya.
Miya menghabiskan sisa hari itu dengan membaca buku-buku di perpustakaan, membantu pelayan memasak dan berjalan-jalan di halaman mansion ketika pamannya telah mengizinkan keluar dari kamarnya. Miya tidak merasa segembira ini ketika ia diberitahu ibunya kalau ia diiznkan keluar kamar. Sekarang tubuhnya sudah merasa lebih baik dan hari sudah menjelang sore langit sudah berubah menjadi lembayung senja, ia melihat paman Fabian telah pulang.
Sebelum makan malam biasanya pamannya selalu berada di ruang keluarga duduk santai sambil membaca koran . Miya akan menanyakan perihal tentang wanita yang disukai pamannya. Di sana ia melihat Fabian sedang asik bermain dengan Hiroshi adik laki-lakinya. Keduanya sedang tertawa cekikikan. Tawa mereka berhenti ketika melihat Miya. ‘’Paman , aku ingin bicara denganmu?’’
‘’Apa yang ingin kamu bicarakan?’’
‘’Aku ingin bicara berdua saja. Hiro bisa tinggalkan kami berdua’’. Hiro mengangguk lalu pergi.
‘’Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku’’ulang Fabian.
‘’Pertama terima kasih sudah mengizinkanku keluar dari kamar dan aku juga ingin bertanya sesuatu’’. Miya menelan ludahnya dengan susah payah. Tidak berani menatap pamannya.
‘’Apa yang ingin kau tanyakan?’’
‘’Siapa wanita yang paman sukai?’’. Fabian berdiri  dan mengangkat wajah Miya yang sedang sedikit tertunduk. ‘’Apakah itu sangat penting bagimu?’’
‘’Tidak. Tentu saja tidak. Aku…aku hanya ingin tahu saja’’.
Fabian kembali tersenyum jahil. ‘’ Oh begitu. Aku tidak akan memberitahumu’’. Miya nampak kecewa sekaligus kesal, lalu ia melihat ada seringaian nakal dan jahil tersungging di wajah pria itu. ‘’Aku akan memberitahumu jika kamu mau menciumku’’.
‘’Apaaa? Aku tidak mau’’.
‘’Kalau tidak mau aku tidak akan memberitahumu karena ini tidak gratis dan bayarannya kamu harus menciumku di sini’’kata Fabian sambil menunjukkan bibirnya.
‘’Jangan harap aku akan menciummu’’kata Miya dengan marah, lalu ia menginjak kaki Fabian yang membuatnya meringis kesakitan. Miya tersenyum puas kemudian gadis itu membalikkan badannya dan langsung pergi dari ruang keluarga.
‘’Miyaaa, awas kau! ‘’.
  Miya tidak memperdulikan teriakan pamannya. Itu salahnya sendiri membuatnya merasa marah. Dia pantas mendapatkannya.
Miya melemparkan dirinya ke atas tempat tidur kedua tangannya di silangkan di belakang kepala memandang langit-langit kamarnya yang cukup tinggi. Ia duduk kembali dengan perasaan kesal yang masih bercokol dihatinya, lalu ia mendesah frustasi dengan mengacak-acak rambutnya.Aaaarrrggghhh....dasar paman gila.Maunya apa sih? Apakah dia selalu bersikap seperti itu kepada wanita lainnya kepada teman-teman kencannya mencium wanita sesuka hatinya. Tidak...tidak ...ia tidak akan menjadi salah satu teman kencan pamannya.
Miya mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Isabella. Ia mengetik pesan dengan kesal.
Paman Fabian tidak ingin mengatakan siapa wanita itu. Sebaiknya kau tinggalkan pria seperti pamanku itu kerjaannya hanya membuat orang marah-marah saja kalau kau terus-terusan berada di dekatnya lama-kelamaan kau benar-benar akan jadi gila . Seperti aku yang sudah setengah gila.
Miya langsung melempar ponselnya dengan kesal kesamping tempat tidur, lalu ia berbaring sampai akhirnya terlelap tidur. Tidak lama kemudian pintu kamarnya terbuka secara perlahan. Sseseorang masuk dengan berjalan mengendap-endap tidak ingin membangunkan sang pemilik kamar. Di sanalah Fabian berdiri sedang memperhatikan Miya yang tertidur lelap.
Pria itu membungkuk dan membiarkan bibirnya menyapi lembut bibir mungil Miya yang sejak dari tadi tergoda untuk diciumnya.  Miya bergumam’’Ryusuke’’ membuat Fabian cemburu dan marah. Ia cemburu hanya nama pria itu yang keluar dari mulutnya di saat ia tertidur. Fabian membelai wajahhhnya dengan perlahan tidak ingin membangunkannya. Apa kau merindukan dia? Apa kau masih mencintainya?Aku tidak akan membiarkanmu kembali kepadanya.Sekarang kau sudah menjadi milikku.Mulai sekarang hanya aku yang boleh menyentuhmu.
Setelah mengatakan itu Fabian pergi dan melihat Hiroshi berada di depan pintu. Ia tersenyum dan meletakan jari telunjukknya di bibirnya. ‘’Ini rahasia kita berdua. Jangan katakan kepada siapa pun yang kamu lihat tadi! Apa kau mengerti?’’. Hiroshi mengangguk cepat. Fabian mengacak-acak rambutnya. ‘’Anak baik’’.
♫♫♫♫
Hari Sabtu yang cerah tepat setelah Miya menyelesaikan makan siangnya, ia membaca pesan balasan dari Isabella.
Apa yang kamu katakan? Fabian tidak mungkin akan membuatku gila. Dia pria baik, jadi kamu jangan mengatai yang macam-macam tentangnya.
Setelah membaca itu Miya mendesah. Isabella pasti tidak akan percaya apa yang akan di katakannya. Baru saja ia akan kembali membalas pesan temannya, Isabella datang dengan wajah cerianya. Dia terlihat sangat cantik dan mengenakan pakaian terbaiknya untuk kencan dengan paman Fabian. Dia juga membawakan beberapa catatan kuliahnya untuk dapat disalin oleh Miya.’’Bagaimana keadaanmu?’’
‘’Sudah lebih baik. Terima kasih’’ 
‘’Bagaimana penampilanku?’’. Isabella memutar-mutarkan tubuhnya di depan Miya.
‘’Kau terlihat sangat cantik. Semoga kencanmu nanti menyenangkan’’.
‘’Tentu akan sangat menyenangkan. Oh ya nanti Sebastian akan datang berkunjung, tapi aku tidak tahu kapan ia akan datang kemari. Baiklah. Aku akan mencari Fabian sekarang. Sampai jumpa lagi!’’katanya sambil mengirimkan ciuman jauh darinya.
Miya menghela napas panjang. Isabella benar-benar jatuh cinta kepada pamannya dan ia teringat dengan Sebastian. Sepertinya Sebastian harus benar-benar melupakan Isabella dan harus puas menjadi sahabatnya saja.
            Tidak lama setelah kepergian Fabian dan Isabella, Sebastian datang dengan membawa sebuket bunga dan juga sekaleng biskuit. Miya mengajak Sebastian berkeliling mansion. Kadang-kadang Miya mencuri kesempatan untuk mencuri pandang ke arah Sebastian untuk melihat ekspresi wajahnya ketika ia menceritakan soal hubungan pamannya dengan Isabella, tapi yang di dapati Miya hanya ekspresi tidak terbaca darinya.
            Miya menjadi merasa bersalah karena ia tidak bisa membantunya mengenai Isabella. Sebastian pria yang sangat baik seandainya saja ia bisa jatuh cinta kepadanya mungkin akan sangat menyenangkan. Sekarang mereka berada di ruang tamu sambil menikmati teh dan beberapa kue kering di hari menjelang sore hari. Perkataan Sebastian yang tidak di duga membuatnya tersedak.
            ‘’Apa kau jatuh cinta kepada pamanmu?’’
Miya langsung menyemburkan air teh yang sedang di minumnya dan membuatnya tersedak. Sebastian terlihat merasa bersalah telah mengajukan pertanyaan itu. ‘’Kau tidak apa-apa?’’
‘’Aku tidak apa-apa. Sungguh’’.
‘’Maaf sudah mengajukan pertanyaan itu’’.
‘’Tidak perlu minta maaf dan yang perlu kau tahu aku tidak jatuh cinta kepadanya. Aku memang menyukainya. Paman Fabian adalah pria tampan pasti semua wanita akan menyukainya juga. Kenapa kau menanyakan itu? Apa aku terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta?’’
Senyuman samar terulas diwajah Sebastian.’’Tidak hanya saja aku berpikir bagaimana kalau kita mencoba menjalin suatu hubungan khusus. Mungkin suatu hari nanti kita bisa saling mencintai’’.
‘’Itu akan sangat menyenangkan, tapi aku tidak bisa. Pasti hatimu juga tidak menginginkannya, bukan? Aku tahu, kau masih sangat mencintai Isabella’’.
‘’Kau wanita yang baik. Seandainya saja aku jatuh cinta kepadamu pasti juga akan sangat menyenangkan. Tapi sayang kita memang tidak berjodoh’’. Keduanya tersenyum dan tertawa.
‘’Kau tahu aku juga sempat berpikiran yang sama denganmu mengenai ini’’.
Sebastian menyimpan cangkir tehnya, lalu duduk berdekatan dengan Miya. Tiba-tiba Sebastian merangkul Miya . ‘’Terima kasih sudah mau menjadi temanku dan mendengar segala keluh kesahku. Kau memang teman yang sangat baik. Aku beruntung bisa bertemu denganmu’’.
‘’Aku juga’’.
Tanpa mereka sadari ada yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Kilauan matanya penuh kemarahan menyaksikan keakraban mereka. Tanpa di duga Sebastian langsung di pukul dan terjatuh ke lantai. Keduanya terkejut melihat Fabian berada di sana. Matanya menjadi gelap oleh kemarahan. Fabian menarik kemeja Sebastian untuk berdiri lalu di pukulnya lagi sampai jatuh tersungkur ke lantai.
Miya yang melihat itu menjadi marah dan menampar Fabian.’’Paman ini apa-apaan. Kenapa memukul Sebastian?’’
‘’Sebaiknya suruh dia pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi’’ucap Fabian dengan nada suara tinggi dan ia terlihat sangat galak membuat Sebastian ketakutan.
‘’Sebaiknya aku pergi saja’’
‘’Tapi Sebatian….’’
‘’Aku tidak ingin membuat masalah dengan pamanmu. Aku tahu kenapa dia melakukan ini kepadaku’’.
Miya hanya menatap bingung Sebastian .’’Nanti aku akan menghubungi lagi’’. Setelah mengatakan itu Sebastian langsung pergi.
Miya langsung menantap Fabian dengan tatapan marah dan jengkel.’’Sikapmu tadi sungguh tidak sopan. Kenapa paman berada di sini? Bukannya sedang kencan dengan Bella’’.
‘‘Kami membatalkan kencan kami karena orang tua Bella meneleponnya karena paman dan bibinya datang dan mereka ingin bertemu dengannya‘‘.
 Sebelum pergi Miya menginjak kaki Fabian dengan keras sampai pamannya benar-benar meringis kesakitan.
‘’Miya, kau….’’. Miya tersenyum puas melihat pamannya sangat kesakitan, lalu ia langsung melarikan diri ke kamarnya.
‘’Ini sudah kedua kalinya kau menginjak kakiku’’teriak Fabian. Ia menjatuhkan diri di kursi sambil mengelus kakinya yang kesakitan. ‘’Sial!’’umpatnya marah. ‘’Ternyata dia berbakat juga menginjak kaki orang. Lihat saja kau akan membayar semua ini’’.
♫♫♫♫
Sinar matahari sore terasa hangat ketika Miya membuka pintu jendela kamarnya dan hembusan angin sejuk yang membawa aroma bunga berdesir masuk ke kamarnya. Terdorong oleh godaan untuk menikmati pemandangan di halaman belakang mansion di bawah hangatnya sinar matahari sore, Miya bergegas turun. Kehangatan menyelimuti dirinya ketika ia sudah berada diluar. Gadis itu duduk disebuah bangku taman di bawah pohon wisteria yang sedang berbunga.
Miya tidak menyadari ketika seseorang dari belakang mendekatinya. Ia terlihat tidak senang ketika Fabian telah duduk disampingnya. Wajahnya terlihat cemberut. Kedatangan pamannya telah menganggu kesenangannya. Tadinya ia ingin menyendiri disini sambil menikmati hangatnya sinar matahari sore, tapi kehadiran Fabian membuatnya merasa terusik. Huuuhhh…dasar paman. Apa tidak bisa membiarkanku sendirian saja? Kenapa tidak kau urusi saja Isabella pasti dia sangat senang jika paman selalu bersamanya. Miya mendengus kesal dalam hati.
Fabian menoleh dan melihat Miya mengerucutkan bibirnya dengan pipinya yang merona merah membuatnya gemas ingin mencubit kedua pipinya. Kapan pun Miya selalu terlihat manis bahkan ketika marah atau cemberut seperti ini. ‘’Apa yang sedang kamu lakukan disini?’’
‘’Apa paman tidak lihat aku sedang apa?’’tanyanya balik.
‘’Sedang melamun’’.
‘’Kalau paman sudah tahu kenapa paman bertanya?’’. Fabian mulai terlihat gemas sekaligus jengkel dengan sikap Miya. Sekarang ia benar-benar ingin mencubit hidungnya dan mencium bibirnya untuk membungkam mulutnya.
Fabian merentangkan kedua tangannya di bangku taman.’’Kamu masih marah padaku?’’
‘’Iya. Aku masih marah’’jawabnya ketus. Miya menatap pamannya dengan tatapan jengkel yang terlihat jelas di wajahnya.’’ Kenapa paman tidak bersikap sopan kepada tamuku?’’
‘’Maksudmu Sebastian?’’
‘’Iya Sebastian. Tadi paman marah-marah tidak jelas kepadanya ketika ia memelukku’’. Fabian kembali merasakan marah di dadanya ketika ia kembali diingatkan lagi tentang kejadian di ruang tamu ketika pria itu datang berkunjung dan pria itu dengan beraninya memeluk Miyanya. Siapa coba yang tidak marah ketika melihat orang yang ia cintai berada dalam pelukan orang lain.
‘’Karena aku tidak suka dia memelukmu, jadinya aku marah’’.
‘’Dasar paman aneh. Kenapa paman harus tidak suka ? Dia itu temanku . Aku tidak marah ketika melihat paman bermesraan dengan Isabella, memeluknya dan berciuman dengannya. Kenapa juga paman harus marah seperti itu? Kasihan Sebastian pasti dia sangat ketakutan kalau bertemu dengan paman lagi. Pokoknya nanti paman harus minta maaf kepadanya’’kata Miya dengan bersungut-sungut.
 ‘’Baiklah aku akan meminta maaf kalau itu membuatmu merasa senang dan puas’’.
‘’Itu bagus. Jadi sekarang apa pendapat paman tentang Isabella? Kalian berdua akhir-akhir ini terlihat sangat akrab’’.
‘’Bella gadis yang cantik dan juga menyenangkan. Aku suka kepadanya’’.
‘’Itu bagus. Pasti Bella akan senang mendengarnya’’. Tanpa di ketahui sebabnya ada perasaan sedih menyelinap dalam dirinya . Perasaan aneh yang mulai merayapi hatinya tentang paman Fabian. Miya sedikit terkejut mendapati pamannya sedang menatapnya lekat-lekat. Ekspresi wajahnya kembali tidak terbaca. Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
‘‘Lalu apa kamu masih mencintai mantan kekasihmu yang bernama Ryusuke?‘‘tanyanya tiba-tiba membuat Miya terkejut dengan pertanyaanya yang tidak di duganya.
Miya langsung memalingkan wajahnya.‘‘Itu bukan urusanmu. Dari mana paman tahu tentang Ryusuke?‘‘tanyanya dengan suara bergetar. Miya terlihat gugup.
‘‘Ibumu yang memberitahuku‘‘.
‘‘Ibuku? Haduuuhh...kenapa ibuku harus bercerita soal Ryusuke kepadamu? Ini sungguh menyebalkan‘‘.
‘‘Jadi kamu tidak ingin mengatakannya kepadaku?‘‘tanya Fabian dengan kilauan mata jahilnya meskipun di hatinya ia merasa cemburu dengan pria yang bernama Ryusuke itu.
‘‘Sudah kukatakan ini bukan urusanmu lagi pula aku tidak ingin mengingatnya lagi‘‘.
‘‘Ternyata kamu memang seseorang yang mudah berpindah ke lain hati rupanya‘‘kata Fabian dengan wajah yang tiba-tiba berubah dingin.
‘‘Apa maksudmu?‘‘
‘‘Kamu sekarang bukannya menyukai Sebastian, jadi itu sebabnya kamu mudah pindah ke lain hati‘‘.
Miya langsung menatap pamannya dengan sangat jengkel.‘‘Aku menyukai Sebastian bukan seperti yang paman pikirkan. Dia temanku. Aku tidak punya perasaan apa-apa padanya. Haduuuhhh...kenapa juga aku harus menjelaskan semuanya kepada paman‘‘. Miya menghela napas panjang. Ia harus pergi dari sini kalau tidak lama kelamaan ia bisa bertengkar dengan pamannya. Rencana menikmati matahari sore yang hangat berantakan sudah.‘‘Sebaiknya aku pergi saja‘‘. 
Miya tersentak ketika dirasakannya rasa hangat yang menjalari tangannya. Ia menoleh dan melihat tangannya sudah digenggam oleh pamannya. Sebuah senyuman jahil merekah di wajah pamannya yang tampan.‘‘Jangan pergi dulu! Aku belum selesai‘‘. Miya mengernyitkan dahinya.
‘‘Mau paman apa?‘‘. Miya menatap curiga pamannya.‘‘ Lepaskan!‘‘. Genggaman tangan Fabian begitu erat dan tatapan matanya membuat Miya gemetar membuatnya tidak dapat bicara atau pun bergerak. Ia hanya dapat menatap dalam-dalam mata pamannya. Tanpa disadarinya, bibirnya sudah berada dalam kuluman Fabian dan tubuhnya sudah berada dalam pelukannya. Miya merasakan tubuhnya mengigil luar biasa dan otaknya tidak sanggup untuk berpikir lagi. Tegang , bingung dan kepanikan yang terasa aneh.
Fabian menciumnya dengan buas. Di lumatnya bibir gadis itu habis-habisan. Bibir Miya masih tidak merespon, kemudian sengaja Fabian bermain-main dimulut gadis itu untuk menggodanya. Dengan lembut bibirnya membujuk dan memaksa bibir Miya untuk membuka. Miya menyerah pada ciuman panasnya dan membiarkan bibir Fabian membuka bibirnya. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan olehnya untuk mencecapnya merasakan manisnya bibir gadis itu. Fabian kemudian menyelipkan tangannya ke bawah kepala Miya untuk menopangnya. Ciuman itu semakin menenggelamkan Miya dalam lautan gairah dan tanpa di sadarinya bibirnya terus mencari kehangatan disana.
Fabian mengakhiri ciuman itu. Setelah nada peringatan bertalu-talu dikepalanya. Ia ingin sekali menjadikan Miya sebagai miliknya saat ini juga, tapi betapa pun besar keinginannya itu, ia tahu tidak boleh melakukannya, karena Miya adalah wanita baik-baik dan dia pantas mendapatkan yang terbaik.  Fabian melonggarkan pelukannya sambil menatapnya dengan matanya masih berkilau penuh gairah.
‘’Miya….aku….’’. Ibu jari Fabian membelai garis bibir Miya dengan lembut. Sekali lagi ia mengecup bibir Miya dengan sangat lembut seolah takut melukai bibirnya yang terlihat rapuh di matanya. ‘’Aku tidak percaya ini’’seru seseorang. Miya dan Fabian langsung menoleh ke arah suara berasal dan keduanya terkejut mendapati seorang wanita berdiri tidak jauh dari mereka dengan ekspresi wajah terkejut dan tidak percaya.  ‘’Isabella’’seru Miya dan Fabian bersamaan. Isabella berlalu pergi dengan beruraian air mata. Setelah memberikan tatapan tajam pada Fabian , Miya meninggalkan pria itu berusaha untuk menyusul Isabella sedangkan Fabian hanya berdiri terpaku  pada Miya dan Isabella yang menghilang dari balik pintu.
Bandara Narita Tokyo
Suara alunan musik my heart belong to you mengalun merdu di sebuah cafe bandara menemani Ryusuke tengah menikmati kopinya sambil memperhatikan orang-orang yang berjalan melewatinya. Ia tersenyum ,beberapa jam lagi ia akan dapat bertemu dengan Miya dan memintanya kembali untuk menjadi kekasihnya. Ryusuke tahu Miya masih mencintainya mengingat usia hubungan mereka yang cukup lama ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih. Pengumuman pesawat menuju New York telah diumumkan, Ryusuke bergegas pergi.
Aku akan segera datang Miya. Tunggu aku!.


Bersambung